Menjadi Freelance Music Composer atau Ikut Perusahaan?

Untung dan Ruginya...

Sekarang, banyak sekali lowongan untuk bekerja sebagai komposer musik. Berbeda dengan dua atau tiga dekade sebelumnya kini sejumlah production house, stasiun televisi, dan tim kreatif musik komposer. Munculah pertanyaan bagi orang yang memilih menjadi Music Composer, mana yang lebih enak dan lebih baik; menjadi musik komposer di perusahaan atau jadi musik komposer mandiri atau freelance. Ada tiga aspek yang akan dibahas dalam tulisan ini; waktu, relasi, dan pendapatan.

Yang pertama mengenai waktu. Jelas bahwa ketika bekerja di perusahaan, waktu kerja music composer akan diatur. Suatu perusahaan tentu mengatur semua pekerjanya dan aturan kerja itu berlaku bagi si musik komposer. Sementara, freelance composer bebas mengatur waktunya sendiri. Konsekuensinya, si komposer perusahaan bisa me-manage waktu hidupnya dengan relatif lebih mudah karena jam kerjanya pasti. Dia bisa menyesuaikan kapan mau mengerjakan hobi lain, melakukan pekerjaan rumah, dan bersosialisasi. Sebaliknya, meskipun freelance composer bisa bebas mengatur waktunya, kadang-kadang karena terlalu cinta dengan proses bermusik, ia sering lupa waktu.

Aspek kedua adalah relasi. Disadari atau tidak, relasi atau modal sosial sangat penting dari profesi ini. Hampir sebagian besar pekerjaan atay job yg didapat merupakan hasil dari kenalan atau relasi. Bahkan social capital ini memainkan satu pertiga dari kesuksesan penjual.

https://www.linkedin.com/pulse/stop-marketing-build-social-capital-jay-palter#:~:text=As%20much%20as%20financial%20and,attributed%20to%20one’s%20social%20capital.

Jika kita memperhatikan tabel di atas, social capital memainkan peran yang sangat penting selain modal uang dan modal manusia. Aspek ini bisa dikembangkan melalui kerja di sebuah kantor. Sebagai komposer kantoran kita mendapatkan banyak kesempatan bertemu orang yg berprofesi berbeda; orang kreatif, produser, dan marketers. Dari pertemuan ini, kita semakin dikenal banyak orang yang notabene memiliki peluang mendapatkan job sesuai bidang kita. Sebagai tambahan, kita bisa belajar ilmu yang lain. Misalnya dari tim kreatif, kita bisa tahu, sebenarnya apa yang sedang trend. Dari marketer kita tahu apa yang paling dicari klien saat-saat ini.

Sayangnya, kita akan jarang sekali bahkan tidak mungkin mendapat kesempatan untuk bertemu klien langsung untuk mempresentasikan karya kita atau membicarakan detail-detail penting dari proses kerja kita. Tentu saja karena di perusahaan semua sudah memiliki job description yang memberikan definisi pembagian kerja yang jelas. Nah, dinilah keunggulan freelance, kita selalu punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan klien untuk menyampaikan gagasan kita dan mendapatkan informasi yang jelas tanpa terdistorsi oleh sutradara atau tim kreatif.

Ketiga adalah soal penghasilan. Kalau kita bekerja di perusahaan atau badan usaha, penghasilan yang didapatkan cenderung stabil atau dikenal sebagai istilah fix income. Jumlah pendapatan yang diperoleh tentu bisa dilihat dalam nilai kontrak yang diteken. Keuntunganya, kita bisa mengatur dengan lebih mudah pengeluaran kita baik untuk kebutuhan dan inveatasi karena kita sudah mengetahui berapa income kita. Namun, untuk menambah penghasilan biasnya kita harus kerja ekstra. Itupun bergantung pada kebijakan perusahan apakah memberi kompensasi lembur atau tidak. Sebaliknya, seorang freelance yang bekerja semakin keras akan semakin mendapatkan penghasilan yang semakin tinggi. Apalagi jika ia kreatif dan menjajaki berbagai wilayah pasar musik dengan rajin. Dengan kata lain, makin tinggi tingkat produktivitas komposer makin tinggi pula potensi penghasilannya.

Itulah perbedaan menjadi komposer musik di suatu perusahaan atau badan usaha dibandingkan dengan freelance composer. Semua pilihan tentu ada sisi positif dan negatifnya. Soal kecocokan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan sifat kepribadian masing-masing orang. Ada juga pilihan untuk jadi komposer perusahaan dengan tetap mendirikan brand sendiri untuk melipatgandakan penghasilan. Semoga bermanfaat. Salam Budaya.

Leave a Reply

Close Menu